Bidik86.com || JAKARTA – Ketahanan ekonomi Indonesia kembali diuji di tengah dinamika global yang memicu pelemahan nilai tukar Rupiah. Akademisi sekaligus praktisi Firmansyah menilai, tantangan saat ini bukan hanya berasal dari faktor ekonomi, tetapi juga dari perang narasi yang bertujuan melemahkan kepercayaan publik. Minggu (20/6/2026)
Dalam tulisannya berjudul _“Ketahanan Ekonomi Indonesia di Tengah Gejolak Global: Belajar dari Pelemahan Rupiah, Perang Narasi Ekonomi, dan Perbandingan Krisis 1998 dengan Kondisi Saat Ini”_, Firmansyah menyebut bahwa ancaman terhadap stabilitas nasional kini berkembang ke ranah _economic warfare_ dan _information warfare_.
“Di era globalisasi, kekuatan suatu negara tidak hanya ditentukan oleh kekuatan militer, tetapi juga oleh kemampuan mempertahankan stabilitas ekonomi dan membangun kepercayaan publik,” tulis Firmansyah, yang merupakan mahasiswa Program Doktoral Cohort 8.
Fundamental Lebih Kuat dari 1998
Firmansyah menegaskan, kondisi ekonomi Indonesia saat ini jauh berbeda dengan krisis 1998. Berdasarkan data yang dipaparkannya, nilai tukar Rupiah kini relatif terkendali, inflasi berada di kisaran 2-4%, dan cadangan devisa tercatat di atas 150 miliar USD.
Sebagai pembanding, pada 1998 Rupiah sempat terpuruk dari Rp2.500 menjadi Rp17.000 per USD, inflasi menembus 77%, cadangan devisa hanya sekitar 20 miliar USD, dan pertumbuhan ekonomi minus 13,1%.
“Sistem perbankan saat ini juga jauh lebih kuat dengan CAR di atas standar internasional, utang luar negeri terkelola, dan pengawasan keuangan yang lebih ketat,” jelasnya.
Waspada Perang Narasi Ekonomi
Ia menyoroti munculnya narasi pesimistis di ruang digital seperti “Indonesia menuju krisis” dan “Rupiah akan jatuh seperti 1998”. Menurutnya, hal ini merupakan bagian dari _economic information warfare_ yang bertujuan melemahkan kepercayaan publik.
“Penyebaran informasi negatif dapat memicu kepanikan pasar, penarikan dana, spekulasi, dan penurunan konsumsi, walaupun fundamental ekonomi sebenarnya masih kuat,” tulisnya merujuk teori _behavioral economics_ Daniel Kahneman.
Tiga Pilar Ketangguhan Indonesia
Firmansyah memaparkan tiga faktor utama yang membuat Indonesia lebih tangguh saat ini: cadangan devisa yang besar, hilirisasi industri nikel, tembaga, bauksit dan sawit, serta sistem perbankan yang stabil. Bonus demografi dan digitalisasi ekonomi melalui UMKM digital, e-commerce, QRIS, dan fintech juga menjadi modal penting.
Untuk memperkuat ketahanan ekonomi, ia merekomendasikan strategi jangka pendek berupa menjaga stabilitas Rupiah dan inflasi, jangka menengah melalui hilirisasi SDA dan pengurangan impor, serta jangka panjang dengan kemandirian energi, pangan, dan penguatan SDM.
Masyarakat Diminta Bijak Bermedia Sosial
Firmansyah mengajak masyarakat untuk tidak mudah terprovokasi, meningkatkan literasi ekonomi, dan mendukung produk dalam negeri.
“Ketahanan ekonomi bukan hanya tugas pemerintah, tetapi tanggung jawab seluruh bangsa Indonesia,” tegasnya.
Ia menyimpulkan bahwa pelemahan Rupiah yang terjadi belakangan bukanlah indikator krisis seperti 1998. Jika seluruh komponen bangsa menjaga optimisme dan produktivitas, Indonesia memiliki peluang besar untuk melewati gejolak global dan menjadi salah satu kekuatan ekonomi dunia.(Ali news)








